Jante Arkidam adalah kumpulan sajak karya Ajip Rosidi. Jante Arkidam diterbitkan di Jatiwangi, Cirebon oleh penerbit Cupumanik pada tahun 1967 dengan tebal 44 halaman. Kemudian, cetakan kedua diterbitkan oleh penerbit Pustaka Bandung pada tahun 1989. Terakhir, kumpulan sajak ini atau cetakan ketiga diterbitkan kembali di Bandung oleh PT Kiblat Buku Utama (seri Girimukti) pada tahun 2008 dengan tebal 66 halaman.
Jante Arkidam memuat 22 buah sajak yang ditulis oleh pengarangnya antara tahun 1957–967. Jante Arkidam dimuat secara kronologis dan sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah-majalah terbitan bahasa Sunda. Sajak-sajak dalam Jante Arkidam ditulis di Jatiwangi, Jakarta, Sumedang dan Bandung.
Jante Arkidam berkisah tentang seorang penjahat atau buronan polisi bernama Jante Arkidam, lengkap dengan semua tindak kejahatan Sang Jante. Sajak Jante Arkidam mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Ajip Rosidi menampilkan karakter Jante Arkidam, yang digali dari khasanah budaya Pasundan, Jawa Barat. Pembaca sajak ini akan membayangkan dirinya sebagai Jante Arkidam. Pembaca berempati dan bersimpati kepada Jante Arkidam, menyanyikan kemenangan dan juga ketegangannya, yang mengharapkan Jante lolos dari kejaran para pemburunya. Namun, dalam kenyataan, orang akan bertindak sebaliknya, yaitu mengharapkan orang-orang seperti Jante Arkidam tertangkap dengan segera. Penyair dengan bijak menangkap aspirasi masyarakat, yang senang dengan ketokohan Jante Arkidam. Meskipun bajingan tengik, Jante Arkidam mampu melakukan apa yang diinginkannya yang tidak dapat diperbuat oleh masyarakat pada waktu itu seperti mempecundangi mantri polisi dan wedana, yang notabene adalah aparat penjajah Belanda.
Judul buku diambil dari judul sajak pertama, yaitu “Jante Arkidam”, sebuah sajak epik (balada) tentang seorang jagoan, buronan polisi, yang bernama Jante Arkidam, yang rupanya diangkat dari khasanah ceritera rakyat. Sajak ini pernah ditulis pula oleh pengarangnya dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam kumpulan Cari Muatan (1959), serta telah dibicarakan secara panjang lebar oleh A. Teeuw.
Dua buah sajak lain menunjukan gaya penulisan yang hampir sama dengan “Jante Arkidam” yaitu “Bendara Ikin” dan “Bagus Rangin”. Sajak “Bendara Ikin” berisi tentang orang yang melecehkan bangsa sendiri, merasa berkuasa karena hidupnya bersandar kepada pihak yang sedang berkuasa. Sementara itu, sajak “Bagus Rangin” menceritakan kepahlawanan Bagus Rangin, tokoh pahlawan rakyat yang legendaris-historis yang memberontak pada pemerintahan Belanda dan kesewenang-wenangan orang-orang Cina di Jatitujuh. Oleh karena peristiwa itu belum terungkap dalam sejarah, pengarang merasa perlu mengawali sajak itu dengan sebuah pengantar. Kedua sajak ini merupakan karya yang ditulis lebih kemudian, yaitu pada tahun 1965 dan pernah dipublikasikan di Mingguan Sunda 1 (5 dan 2) pada bulan Maret dan Juli 1965.
Tema keagamaan terkandung dalam dua buah prosa lirik yang berjudul “Anasir Jati’ dan “Pareng Dina Hiji Poe” ‘Pada Suatu Hari’. Dalam sajak yang disebut terakhir dilukiskan renungan-renungan menyelusuri teka-teki kekuasaan Yang Maha Kuasa, yang berakhir dengan timbulnya perasaan tenteram dalam diri. Sebagai ilustrasi berikut akan ditampilkan sajak “Jante Arkidam”
Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam
Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, jante Arkidam
Di penjudian, di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam
Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadaian
Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa
Mantri polisi lihat ke mari
Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku
Wedanan jangan ketawa sendiri
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi
Berpandangan wedana dan matri polisi
Jante, Jante Arkidam
Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi
Dan kini ia menari
Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
Batang pisang
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat ruji besi
…
Tema keagamaan terkandung dalam dua buah prosa lirik yang berjudul “Anasir Jati” dan Pareng Dina Hiji Poe. Dalam sajak yang disebut terakhir dilukiskan renungan-renungan menyelusuri teka-teki kekuasaan Yang Maha Kuasa, yang berakhir dengan timbulnya perasaan tenteram dalam diri.